Nguing..nguing..nguing.. Sirene mobil polisi terdengar dengan begitu jelas. Mobil polisi telah berderet parkir di depan rumah seorang lelaki yang telah meninggal tadi sore. Mayatnya ditemukan oleh temannya ketika berkunjung ke rumahnya.
“Pak Inspektur,ini data-data pibadi lelaki itu !”, kata seorang polisi yang bernama Saguchi Himura.
“Terimakasih. Apa ada barang bukti yang ditemukan, Saguchi?”, tanya pak inspektur kepada polisi tersebut.
“Yang ditemukan hanyalah rokok bekas yang sudah mati. Selain itu, tidak ada lagi yang ditemukan”, kata polisi Saguchi.
“Rokok bekas?”, Tanya pak inspektur dengan heran.
“Ya. Rokok itu ditemukan di dekat korban”, kata polisi Saguchi.
“Hmm… begitu ya! Teruskan saja penyelidikannya!”, kata pak inspektur dengan tegas.
“Siap, pak!”, kata polisi Saguchi dengan tegas juga.
Tanpa sengaja, ada seorang anak SMA yang melihat tempat kejadian tersebut. Karena penasaran, anak itu masuk ke tempat kejadian. Anak itu bernama Toma Kazuhito. Saat masuk ke rumahnnya, Toma tiba-tiba menjerit kesakitan. Toma melihat kakinya, dan melihat ada belingan kaca yang tertancap di kakinya. Toma lalu membalut lukanya dengan kain perban yang telah dimintanya kepada pihak polisi dan mengambil belingan kacanya.
Sesudah mengobati lukanya, Toma bertanya kepada seorang polisi.
“Apa ini merupakan pembunuhan?”, kata Toma antusias.
“Sepertinya ini bunuh diri, karena korban gantung diri!”, kata polisi.
“Siapa nama kamu nak?’, kata pak polisi.
“Nama saya Toma Kazuhito, panggil saja Toma. Nama anda siapa pak?”, kata Toma.
“Nama saya Saguchi Himura, panggil saja saya Pak Saguchi!”, kata Pak Saguchi.
“Dimana orang yang menemukan mayatnya?”, kata Toma.
“Dia sedang di kantor polisi untuk ditanyai lebih lanjut. Memangnya kenapa nak?”, Tanya polisi itu dengan heran.
“Dia siapanya korban?”,kata Toma dengan antusias.
“Dia temannya korban!”,kata polisi tersebut.
“Terimakasih ya pak!”, kata Toma.
“Sama-sama nak!, kalau ada yang ingin ditanyakan lagi silakan bertanya kepada saya”, kata polisi itu dengan ramah dan senyum.
Toma pun membalas senyuman dari polisi itu. Ketika Toma masuk ke tempat kejadian, Toma melihat mayat laki-laki itu dengan mata terbelalak. Toma lalu memperhatikan betul-betul mayat itu. Toma lalu melihat ada darah yang sudah kering di kepalanya dan sebuah luka. Toma langsung menyadari bahwa ini bukan bunuh diri, melainkan pembunuhan. Kemudian Toma melihat ada bekas rokok yang begitu banyak, tapi rokok itu hanya memiliki 2 merek. Toma kemudian berpikir bahwa rokok ini mungkin bekas pelaku dan korban. Orang ini pasti perokok berat. Toma kemudian melihat kertas yang letaknya ada di tempat sampah. Toma pun membaca isi kertas tersebut, tapi yag ada hanyalah nama korban yaitu Ryo Takama yang ditulis dengan darah. Toma berlari menuju polisi Saguchi dan bertanya tentang teman-teman korban yang paling dekat dengan korban. Pak Saguchi pun menjawab bahwa teman korban yang paling dekat dengan korban ada 5 orang yaitu, Hazuki Yamada, Yumi Matsumoto,Haruka Nozawa, Kanata Fukuyama dan Takase Hayama. Toma pun meminta polisi Saguchi agar kelima orang tersebut dipanggil ke tempat kejadian sekarang juga. Polisi Saguchi bingung dengan permintaan Toma, tapi dia tetap menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Toma.
Selagi pak Saguchi memanggil teman-teman korban, Toma mencari alat yang digunakan oleh pelaku untuk membunuh korban. Kemudian Toma ingat akan belingan kaca yang telah diinjaknya tadi. Toma pun bergegas kembali ke tempat dimana dia menemukan belingan kaca itu. Sesampainya disana, Toma melihat pot bunga yang sangat besar sdan mulai membongkarnya. Akhirnya, benda yang dicari Toma pun dapat ditemukan.
Sesampainya disana, teman-teman korban telah menunggu kedatangannya. Toma langsung melempar bola ke arah mereka semua. Para polisi dan teman-teman korban pun langsung bingung. Kelima teman korban tersebut menangkap bolanya dengan tangan kanan, tapi ada dua orang temannya yang menangkap bola dengan tangan kiri yaitu, Kanata Fukuyama dan Takase Hayama. Kemudian Toma menyuruh mereka berdua untuk merokok sampai rokoknya habis. Setelah habis, Toma mengambil kedua batang rokok yang berbeda itu dan mengambil tempat rokok yang dijadikan barang bukti oleh polisi
“Kamulah pelakunya, Takase Hayama!”, kata Toma.
“A..a.. apa yang kamu bilang?”, kata Takase dengan sedikit gemetar.
“Kamu pelakunya!”,kata Toma mengucapkan sekali lagi.
“Ha…ha..ha…, Apa buktinya kalau aku adalah pelakunya?”, kata Takase.
“Buktinya adalah tangan yang kidal dan bekas rokok yang telah kau hisap tadi!”, kata Toma dengan tegas.
“Apa? Barang seperti itu mau dijadikan bukti!, Lucu sekali!”, kata Takase dengan meremehkan.
“Rokok itu sama dengan rokok yang di tempat rokok itu dan di dalam surat yang ditinggalkan oleh korban, pelaku merupakan orang –orang terdekat yang mempunyai ciri-ciri tangan kidal, tapi diantara semua teman ada dua orang yang kidal, yaitu Kanata dan kamu!, Tapi Kanata tidak dapat dijadikan pelaku, karena dia mengisap rokok yang berbeda dan bekas rokoknya tidak ada dalam tempat rokok itu!”, kata Toma.
“Kalau memang aku yang membunuhnya, kenapa dia mati dengan gantung diri?”, kata Takase.
“ Sebenarnya, korban sudah meninggal sebelum gantung diri. Korban dibunuh dengan cara kepalanya dipukul dengan vas bunga , kemudian pelaku mengangkat korban dan memasangkan tali ke lehernya. Kemudian korban digantung seolah-olah korban bunuh diri. Tapi, sebelum korban meninggal, korban menuliskan namanya dan sesuatu yang tak bisa dilihat di sebuah kertas, kecuali kita mengarahkan tulisan itu ke arah cahaya. Disitu tertulis “pelakunya adalah teman-teman dekatku yang kidal”, kemudian dia membuang surat itu ke tempat sampah dan meninggal ketika itu juga. Sayangnya, pelaku salah mengira. Pelaku mengira bahwa korban ingin lari, padahal korban membuang sebuah ciri-ciri dari pelaku. Apakah itu benar Takase?”, kata Toma.
“Kukira tidak akan ketahuan!”,kata Takase dengan gemetar.
“Kenapa kamu membunuhnya?”, Tanya Toma.
“Karena dia telah jahat pada ibuku!. Sewaktu ibuku bekerja di rumahnya, dia selalu memerintah ibuku mengerjakan hal-hal yang berat, sehingga ibuku jatuh sakit dan meninggal dunia. Sejak itu lah aku berjanji akan membunuh dia dengan tanganku sendiri!”, kata Takase dengan marah.
“Ibu kamu pasti tidak mau anaknya menjadi penjahat!, Apa kata ibu kamu disana?”, kata Toma dengan prihatin.
“Huhuhu….., Maafkan aku, Bu!”, kata Takase dengan sedih.
Tamat
“Pak Inspektur,ini data-data pibadi lelaki itu !”, kata seorang polisi yang bernama Saguchi Himura.
“Terimakasih. Apa ada barang bukti yang ditemukan, Saguchi?”, tanya pak inspektur kepada polisi tersebut.
“Yang ditemukan hanyalah rokok bekas yang sudah mati. Selain itu, tidak ada lagi yang ditemukan”, kata polisi Saguchi.
“Rokok bekas?”, Tanya pak inspektur dengan heran.
“Ya. Rokok itu ditemukan di dekat korban”, kata polisi Saguchi.
“Hmm… begitu ya! Teruskan saja penyelidikannya!”, kata pak inspektur dengan tegas.
“Siap, pak!”, kata polisi Saguchi dengan tegas juga.
Tanpa sengaja, ada seorang anak SMA yang melihat tempat kejadian tersebut. Karena penasaran, anak itu masuk ke tempat kejadian. Anak itu bernama Toma Kazuhito. Saat masuk ke rumahnnya, Toma tiba-tiba menjerit kesakitan. Toma melihat kakinya, dan melihat ada belingan kaca yang tertancap di kakinya. Toma lalu membalut lukanya dengan kain perban yang telah dimintanya kepada pihak polisi dan mengambil belingan kacanya.
Sesudah mengobati lukanya, Toma bertanya kepada seorang polisi.
“Apa ini merupakan pembunuhan?”, kata Toma antusias.
“Sepertinya ini bunuh diri, karena korban gantung diri!”, kata polisi.
“Siapa nama kamu nak?’, kata pak polisi.
“Nama saya Toma Kazuhito, panggil saja Toma. Nama anda siapa pak?”, kata Toma.
“Nama saya Saguchi Himura, panggil saja saya Pak Saguchi!”, kata Pak Saguchi.
“Dimana orang yang menemukan mayatnya?”, kata Toma.
“Dia sedang di kantor polisi untuk ditanyai lebih lanjut. Memangnya kenapa nak?”, Tanya polisi itu dengan heran.
“Dia siapanya korban?”,kata Toma dengan antusias.
“Dia temannya korban!”,kata polisi tersebut.
“Terimakasih ya pak!”, kata Toma.
“Sama-sama nak!, kalau ada yang ingin ditanyakan lagi silakan bertanya kepada saya”, kata polisi itu dengan ramah dan senyum.
Toma pun membalas senyuman dari polisi itu. Ketika Toma masuk ke tempat kejadian, Toma melihat mayat laki-laki itu dengan mata terbelalak. Toma lalu memperhatikan betul-betul mayat itu. Toma lalu melihat ada darah yang sudah kering di kepalanya dan sebuah luka. Toma langsung menyadari bahwa ini bukan bunuh diri, melainkan pembunuhan. Kemudian Toma melihat ada bekas rokok yang begitu banyak, tapi rokok itu hanya memiliki 2 merek. Toma kemudian berpikir bahwa rokok ini mungkin bekas pelaku dan korban. Orang ini pasti perokok berat. Toma kemudian melihat kertas yang letaknya ada di tempat sampah. Toma pun membaca isi kertas tersebut, tapi yag ada hanyalah nama korban yaitu Ryo Takama yang ditulis dengan darah. Toma berlari menuju polisi Saguchi dan bertanya tentang teman-teman korban yang paling dekat dengan korban. Pak Saguchi pun menjawab bahwa teman korban yang paling dekat dengan korban ada 5 orang yaitu, Hazuki Yamada, Yumi Matsumoto,Haruka Nozawa, Kanata Fukuyama dan Takase Hayama. Toma pun meminta polisi Saguchi agar kelima orang tersebut dipanggil ke tempat kejadian sekarang juga. Polisi Saguchi bingung dengan permintaan Toma, tapi dia tetap menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Toma.
Selagi pak Saguchi memanggil teman-teman korban, Toma mencari alat yang digunakan oleh pelaku untuk membunuh korban. Kemudian Toma ingat akan belingan kaca yang telah diinjaknya tadi. Toma pun bergegas kembali ke tempat dimana dia menemukan belingan kaca itu. Sesampainya disana, Toma melihat pot bunga yang sangat besar sdan mulai membongkarnya. Akhirnya, benda yang dicari Toma pun dapat ditemukan.
Sesampainya disana, teman-teman korban telah menunggu kedatangannya. Toma langsung melempar bola ke arah mereka semua. Para polisi dan teman-teman korban pun langsung bingung. Kelima teman korban tersebut menangkap bolanya dengan tangan kanan, tapi ada dua orang temannya yang menangkap bola dengan tangan kiri yaitu, Kanata Fukuyama dan Takase Hayama. Kemudian Toma menyuruh mereka berdua untuk merokok sampai rokoknya habis. Setelah habis, Toma mengambil kedua batang rokok yang berbeda itu dan mengambil tempat rokok yang dijadikan barang bukti oleh polisi
“Kamulah pelakunya, Takase Hayama!”, kata Toma.
“A..a.. apa yang kamu bilang?”, kata Takase dengan sedikit gemetar.
“Kamu pelakunya!”,kata Toma mengucapkan sekali lagi.
“Ha…ha..ha…, Apa buktinya kalau aku adalah pelakunya?”, kata Takase.
“Buktinya adalah tangan yang kidal dan bekas rokok yang telah kau hisap tadi!”, kata Toma dengan tegas.
“Apa? Barang seperti itu mau dijadikan bukti!, Lucu sekali!”, kata Takase dengan meremehkan.
“Rokok itu sama dengan rokok yang di tempat rokok itu dan di dalam surat yang ditinggalkan oleh korban, pelaku merupakan orang –orang terdekat yang mempunyai ciri-ciri tangan kidal, tapi diantara semua teman ada dua orang yang kidal, yaitu Kanata dan kamu!, Tapi Kanata tidak dapat dijadikan pelaku, karena dia mengisap rokok yang berbeda dan bekas rokoknya tidak ada dalam tempat rokok itu!”, kata Toma.
“Kalau memang aku yang membunuhnya, kenapa dia mati dengan gantung diri?”, kata Takase.
“ Sebenarnya, korban sudah meninggal sebelum gantung diri. Korban dibunuh dengan cara kepalanya dipukul dengan vas bunga , kemudian pelaku mengangkat korban dan memasangkan tali ke lehernya. Kemudian korban digantung seolah-olah korban bunuh diri. Tapi, sebelum korban meninggal, korban menuliskan namanya dan sesuatu yang tak bisa dilihat di sebuah kertas, kecuali kita mengarahkan tulisan itu ke arah cahaya. Disitu tertulis “pelakunya adalah teman-teman dekatku yang kidal”, kemudian dia membuang surat itu ke tempat sampah dan meninggal ketika itu juga. Sayangnya, pelaku salah mengira. Pelaku mengira bahwa korban ingin lari, padahal korban membuang sebuah ciri-ciri dari pelaku. Apakah itu benar Takase?”, kata Toma.
“Kukira tidak akan ketahuan!”,kata Takase dengan gemetar.
“Kenapa kamu membunuhnya?”, Tanya Toma.
“Karena dia telah jahat pada ibuku!. Sewaktu ibuku bekerja di rumahnya, dia selalu memerintah ibuku mengerjakan hal-hal yang berat, sehingga ibuku jatuh sakit dan meninggal dunia. Sejak itu lah aku berjanji akan membunuh dia dengan tanganku sendiri!”, kata Takase dengan marah.
“Ibu kamu pasti tidak mau anaknya menjadi penjahat!, Apa kata ibu kamu disana?”, kata Toma dengan prihatin.
“Huhuhu….., Maafkan aku, Bu!”, kata Takase dengan sedih.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar